Rabu, 19 Oktober 2016

HAJI BOEJASIN PAHLAWAN MUDA PENAKLUK FORT TABANIOW



Haji Boejasin adalah salah seorang pahlawan yang berjuang pada masa kerajaan Banjar. Beliau berjuang bersama Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana. Beliau terkenal sebagai pahlawan muda yang dijuluki oleh pihak Belanda sebagai “Berandal Licin” , karena pergerakan beliau yang sangat susah ditebak dan beliau pada saat melakukan penyerangan suka membakar tangsi-tangsi Belanda.

Nama lengkap beliau adalah Haji Muhammad Jasin. lahir di daerah Subuhur (Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan) pada tahun 1837. Nama aslinya Muhammad Yasin. Masa kecil dan remaja dilalui dengan belajar agama dan taat beribadah. Muhammad Yasin berangkat haji dalam usia muda, dan karena itulah, pada waktu berjuang namanya disebut Haji Buyasin. Sementara orang mengatakan bahwa dia juga penghulu, ahli agama, jadi untuk sezamannya prestasinya cukup menonjol. Karena masih muda, sudah naik haji, tahu ilmu agama, dan berasal dari keluarga kaya (sebab tidak mungkin haji kalau tidak kaya).Ketika ia muncul dalam barisan perjuangan bersama Demang Lehman dan Pangeran Antasari, ia baru berusia kira-kira 20 tahun. Jadi nyatanya ia masih muda sekali. Tetapi Demang Lehman telah melihat adanya sifat-sifat kepahlawanan yang dimiliki oleh Haji Boejasin yang masih sangat muda itu.

Haji Boejasin sebagai pemimpin perlawanan di daerah Tanah Laut ini mempunyai pengikut yang cukup banyak dan teratur. Keistimewaan Haji Boejasin adalah dalam setiap pertarungan melawan Belanda, ia tidak membiarkan anak buahnya saja yang maju ke depan, tetapi malah ia sendiri yang berjuang paling depan.

Pada suatu hari beliau pernah menyusup ke dalam markas Belanda di Martapura. Di sana ia mengamuk dan banyak membunuh musuh-musuhnya, kemudian berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda. Selanjutnya ia bertempur pula di Cempaka, Sungai Paring, Gunung Landak dan Tabanio.

Haji Boejasin Mempunyai benteng yang cukup ampuh di suatu tempat yang bernama Telaga, letaknya antara Sabuhur dan Batu Tungku. Pada tanggal 27 Juli1859, benteng Telaga ini pernah dikepung oleh Belanda dengan kekuatan yang besar. Tetapi sayangnya disekitar benteng itu telah dipasang jebakan, ketika pasukan Belanda mulai beraksi maka jadilah mereka umpan yang empuk bagi jebakan-jebakan yang mematikan tadi.

Peristiwa “Benteng Tabanio” (Baca juga Benteng Tabanio) dalam bulan Agustus 1859 juga membuktikan keberaniannya. Benteng Tabanio yang diduduki Belanda berhasil direbut olehnya bersama Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana. Ketika Belanda datang kembali dengan bantuan kapal perang Bone untuk merebut Benteng tabanio, Haji Boejasin melawannya dengan gigih juga, sehingga serangan yang kedua oleh Belanda ini juga Gagal. Empat bulan kemudaian tepatnya pada bulan Desember 1859 Benteng Haji Buyasin di Takisung diserang secara besar – besaran dan dapat di hancurkan. Haji Buyasin menyingkir ke daerah Pleihari yang akhirnya sampai ke daerah Bati – Bati,

Pertempuran-pertempuran selanjutnya sejak tahun 1860-1864 terus-menerus terjadi di Pelaihari, Bati-bati, Tabanio, Satui, Maluka, Tambak Linik, Salingsing, Liang Anggang, Awang Bangkal, Tiwingan dll. Haji Boejasin melakukan taktik gerilya, yaitu menyerang secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Bahkan karena saking sulitnya Belanda menangkap Haji bujasin, sampai-sampai Belanda mengeluarkan sayembara dengan harga kepal Hadjie bujasin sebesar f. 1.000,- (Staat Der Opstandelingen Op Wien Premien Of Hoofdgelden Zijn Gesteld (Daftar Nama Pemberontak Yang Dikenai Premi atau Harga Kepala)

Peristiwa bulan Mei 1864 yang terjadi di Tambak Linik dan Salingsing (pedalaman Bati-bati) dialami bersama istri dan 9 orang pengikutnya. Mereka terkurung dalam kepungam musuh selama 10 hari lamanya, sampai-sampai mereka kehabisan bekal makanan, pada saat itu mereka hanya makan umbut-umbut muda dan buah-buahan hutan. Musuh telah menjepit mereka di Pelaihari, Martapura dan Banyu Hirang dengan115 orang serdadu, dan ditambah lagi pasukan pengkhianat yang membela Belanda daripada rakyat kurang lebih 50 orang. Namun berkat ketabahan, keuletan dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa akhirnya mereka dapat meloloskan diri dari pihak musuh. Akan tetapi pada saat mereka sampai di rumah mereka di Sabuhur, mereka telah mendapati rumah mereka yang hangus dibakar Belanda. Tetapi hal ini tidak menyustkan semangatnya untuk terus berjuang dan berjuang.

Setelah kejadian itu menyusul kejadian di Asam-asam dan Batu Tungku. Di sini Haji Boejasin berhadapan dengan pasukan Bugis dari Pagatan (Kalimantan tenggara). Mereka itu adalah kaum yang memihak dan dibantu olah Belanda. Namun kali inipun Haji Boejasin berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Bahkan ketika pertempuran Pematang Damar, November 1865 pundaknya yang penuh darah karena peluru yang menembusnya, Haji Boejasin masih dapat meloloskan diri dan bertempur kembali di Gunung Anjal.

Perlawanannnya yang terakhir adalah ketika ia menjelajah ke Tanah Dusun sungai Lintuni di Kal-Teng, ia bertemu Pembakal Bonang yang telah lama mencarinya. Pelurupun menembus kulit tubuhnya, darahpun tumpah di Bumi Pertiwi dan saat itulah ia menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa ini terjadi pada 26 January 1866. Haji Buyasin gugur sebagai pahlawan dan sekaligus mujahid. meninggal dalam usia muda, 29 tahun. Jenazah Haji Buyasin yang pernah menguasai dan memimpin Benteng Tabanio di serahkan kepada Belanda di Banjarmasin oleh Pangeran Nata Bupati Martapura. Kemudian oleh masyarakat di makamkan di lokasi makam Mesjid Jami Lama di tepi Sungai Martapura, Pasar Lama.

Bidang PSK ( Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan : sekarang ) telah melakukan Survei di lokasi ini, tetapi tidak menemukan Makam Haji Buyasin di antara makam – makam yang ada. Mungkin hal ini di sebabkan adanya kerusakan tanah akibat erosi Sungai Martapura. Lokasi makam – makam di tempat ini mengalami perubahan yaitu menyempit banyak makam – makam yang runtuh dan hilang yang semula berada di tanah sekarang lenyap ke tengah sungai martapura. Mesjid Jami sendiri telah lama di pindahkan lebih ke tengah yang sekarang ini berada di pinggir jalan Mesjid. Kelurahan Mesjid Jami / Surgi Mufti Kecamatan Banjar Utara Banjarmasin ( Dahulu lebih di kenal dengan Kampung Masigit ).

(dirangkum dari ebrbagai sumber)




Posting Komentar